kali ini kehebohan ini di sebabkan oleh seorang Flores yang sedang patah hati.
Sebelum melakukan aksi penikaman, informasi FAJAR menyebutkan, pelaku terlihat membonceng salah seorang perempuan menggunakan sepeda motor Honda Revo DD 6141 FT dari arah Daya. Entah karena apa begitu sampai di depan M'Tos pelaku langsung menyerang anak-anak yang sehari-hari mencari nafkah dengan membantu pengunjung menyeberang atau mengangkat belanjaan mereka.
mungkin saja si pelaku sedang bertengkar dengan pacarnya.hhay!!! ini mungkin percakapan mereka di atas motor sebelum si pelaku menikam anak" yang tak berdosa itu.
Pelaku: sayang,kamu marah yah?
Pacarnya: kamu pikir aja sendiri
Pelaku: kamu marah karna harga sepatu yang tadi ya?
Pacarnya: (diam....)
Pelaku: tapi kan harganya cuma beda 5000 doang,kok marah?
Pacarnya: kamu nggak pernah ngertiin aku!!!
Pelaku: Tapi kan....pacarnya langsung memotong..
Pacarnya: kamu bajingan!!!!
Pelaku: tapi aku bukan bajingan..
Pacarnya: berarti kamu HOMO!!!si pelaku mulai stress...
pacarnya juga sudah mulai marah dan memulai permainan otak yang bernama "TURUNIN GUE SEKARANG"
Pacarnya: oke, Turunin gue sekarang!!!
Pelaku: tapi kan...kembali memotong...
Pacarnya: TURUNIN GUE SEKARANG!!!
Pelaku: oke aku turunin kamu..
Pacarnya: teganya kmu... oke turunin gue!!!!setelah menurunkan pacarnya si pelaku pun menerima kata" sakral bagi semua laki laki...
Pacarnya : Puki kau! GUE.LOE.END!!!!nah setelah kejadian itu si pelaku langsung menikam 2 anak tak berdosa..
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Erwin Triwanto yang melakukan peninjauan kepada korban di RS Wahidin dan rumah duka, juga mengungkapkan hal yang sama. Pelaku diduga meneriaki pelaku sehingga menyulut emosi tersangka. Empat orang ditikam pelaku di depan M'Tos, sementara dua korban ditikam di lampu merah depan PLTU Tello.
Sejumlah saksi yang ditemui termasuk rekan-rekan korban, menyebutkan bahwa pelaku pertama kali menikam Saldi. Tidak puas menikam bocah itu, dia kemudian menikam Edi dan seorang ibu yang berjualan di depan M'Tos, Isa serta Mutfaldi. Beberapa rekan korban sempat juga akan ditikam, namun cepat melarikan diri.
Usai melakukan penikaman, pelaku kemudian melarikan diri ke arah PLTU, sementara sejumlah warga melakukan pengejaran. Begitu melewati jembatan Tello, pelaku naik ke sebuah pete-pete trayek BTP-Sentral yang dikemudikan Jaya. Begitu tiba di lampu merah, korban yang satu ini menghentikan mobilnya karena pas lampu merah.
Pelaku saat itu terus mendesak korban untuk menjalankan mobilnya. Tapi karena menolak dengan alasan lampu merah, pelaku kemudian menikam korban dari belakang dan arah depan dan salah seorang penumpangnya yang duduk di sampingnya. "Penumpang di samping saya ditikam di dadanya. Orang tua itu saya tidak tahu dimana sekarang," ujar Jaya.
Usai menikam Jaya dan penumpangnya itu, pelaku turun kemudian pindah ke sebuah mobil pick up. Di situlah pelaku dilempari batu oleh warga yang melihatnya. Pelaku akhirnya tidak bisa berdaya setelah dikeroyok dan dilempari batu.
Namun penumpang dimaksud diduga adalah pensiunan polisi yang juga tewas dalam peristiwa ini yakni Syamsu Alam. Pasalnya menurut Jaya, korban tersebut naik di Blok H-G kompleks BTP. Namun lainnya menyebut, Syamsu menjadi korban karena berusaha menyelamatkan bocah yang dibantai pelaku di depan M'Tos.
Informasi lain menyebutkan, Syamsu Alam juga menjadi korban dalam peristiwa ini karena saat kejadian berlangsung, korban yang meninggalkan rumahnya untuk membeli obat itu, berusaha menyelamatkan bocah yang dibantai oleh pelaku. Saat itu, korban menumpang pete-pete dan turun begitu melihat ada bocah ditikam pelaku.
Pelaku sendiri berhasil ditangkap polisi dan warga di depan PLTU Tello. Bahkan sebelum diamankan polisi, pelaku sempat dimassa warga hingga mengakibatkan korban bersimbah darah bahkan dalam kondisi kritis karena kepalanya pecah. Pelaku saat ini dirawat di RS Bhayangkara Makassar dalam penjagaan ekstra ketat.
Selain menangkap pelaku, warga juga menangkap seorang teman pelaku yang kerap terlihat di depan M'Tos bernama Stefanus. Warga yang satu ini sempat melarikan diri ke Sungai Tello, namun berhasil ditangkap warga. Untungnya, warga tidak sampai menganiaya teman pelaku ini kendati sempat menelanjanginya. Polisi langsung mengamankan rekan pelaku tersebut.
Selain menangkap pelaku, warga juga menangkap seorang teman pelaku yang kerap terlihat di depan M'Tos bernama Stefanus. Warga yang satu ini sempat melarikan diri ke Sungai Tello, namun berhasil ditangkap warga. Untungnya, warga tidak sampai menganiaya teman pelaku ini kendati sempat menelanjanginya. Polisi langsung mengamankan rekan pelaku tersebut.
Sekitar satu jam setelah peristiwa berlangsung, ratusan warga di Jalan Perintis Kemerdekaan tepatnya di depan BTN Hamzi melakukan razia terhadap warga tertentu yang diduga komplotan pelaku. Dalam razia itu, setidaknya ada dua mobil pete-pet dan satu mobil boks dirusak warga karena sopirnya diduga adalah komplotan pelaku.
Selain merusak mobil, salah seorang warga yang tidak tahu menahu persoalan itu menjadi korban. Dia menjadi sasaran amuk warga hanya karena memiliki ciri-ciri yang sama dengan pelaku. Korban tersebut diketahui bernama Yulius (20). Dia sempat dilarikan ke RS Wahidin untuk mendapatkan perawatan.
Kapolsekta Tamalate menegaskan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan atas peristiwa itu. Dia berharap, masyarakat tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya penyelidikan kasus ini kepada aparat kepolisian.
Akibat peristiwa ini, kemacetan terjadi sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan mulai sekitar Kampus Unhas hingga PLTU Tello. Kemacetan semakin para begitu warga melakukan razia.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Johny Wainal Usman yang mendapat laporan peristiwa berdarah itu, tadi malam juga langsung menemui keluarga korban di BTN Hamzy. Johny didampingi sejumlah perwira dari Polda Sulsel, serta Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Erwin.
Kapolda berharap peristiwa ini tidak memancing masyarakat untuk bertindak anarkis. "Jangan terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan karena peristiwa ini murni kriminal dan pengaruh minuman keras," ujarnya.
LOL!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar